Medan | (4/7) – Delapan Sultan dari wilayah Kesultanan Sumatera Timur menggelar dialog bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Jalan Rajawali Nomor 43, Kota Medan, Kamis (2/7/2026) malam. Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi para sultan menyampaikan berbagai aspirasi terkait eksistensi Kesultanan Melayu, persoalan tanah ulayat, pelestarian budaya, hingga pembangunan kawasan.
Delapan sultan yang hadir dalam pertemuan tersebut yakni Sultan Deli, Sultan Langkat, Sultan Asahan, Sultan Serdang, Sultan Kota Pinang, Sultan Kualuh Leidong, Sultan Bilah, dan Sultan Panai.
Dialog berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan difasilitasi oleh Sekretaris Jenderal Perhimpunan Masyarakat Melayu Baru Indonesia (MABIN), Syarifuddin Siba.
AHY hadir didampingi sejumlah jajaran, di antaranya Staf Khusus Bidang Manajemen dan Kerja Sama Antar Lembaga Agust Jovan Latuconsina, Staf Khusus Bidang Percepatan Pembangunan Irjen Pol. Arif Rachman, serta Tenaga Ahli Bidang Politik dan Tata Kelola Pembangunan Kewilayahan Ahmad Khoirul Umam.
Acara diawali dengan sambutan tuan rumah Irmansyah Lubis, dilanjutkan pengantar dari Syarifuddin Siba yang menjelaskan latar belakang pertemuan sekaligus sejarah delapan kesultanan Melayu di Sumatera Timur.
Menurut Syarifuddin, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, delapan kesultanan tersebut merupakan pemegang otoritas pemerintahan di wilayah Sumatera Timur yang kini menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara. Meski tidak lagi memiliki kewenangan pemerintahan, para sultan tetap diakui sebagai pemangku adat dan budaya Melayu.
“Pertemuan ini menjadi ruang bagi para sultan untuk menyampaikan aspirasi mengenai pelestarian budaya Melayu sekaligus berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, para sultan secara bergantian menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari penyelesaian status tanah ulayat kesultanan, pelestarian budaya Melayu, peningkatan kesejahteraan masyarakat Melayu, hingga pembangunan infrastruktur di wilayah bekas kesultanan.
Sultan Kualuh Leidong, Zainal Arifin Muhammad Syah, mengisahkan sejarah keluarganya pada masa Revolusi Sosial 1946 yang menyebabkan ayah dan kakeknya menjadi korban. Ia juga berharap pemerintah dapat membantu penyelesaian persoalan aset dan tanah ulayat Kesultanan Kualuh Leidong yang hingga kini belum memperoleh kepastian hukum.
Selain itu, ia meminta perhatian pemerintah terhadap pembangunan di Kabupaten Labuhanbatu Utara, termasuk pemberdayaan masyarakat Melayu di wilayah tersebut.
Senada, Sultan Asahan Muhammad Iqbal Alvinanda Abdul Jalil Rahmadsyah menyampaikan aspirasi terkait perlindungan hak tanah ulayat serta peningkatan kesejahteraan nelayan melalui pembangunan infrastruktur pendukung, pelestarian hutan mangrove, dan penyediaan rumpon sebagai sarana penangkapan ikan.
Aspirasi serupa juga disampaikan Sultan Deli, Sultan Serdang, dan sultan lainnya yang berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap penyelesaian berbagai persoalan tanah ulayat serta pembangunan kawasan Sumatera Timur.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, AHY menyatakan seluruh masukan akan menjadi bahan kajian pemerintah. Ia menegaskan tidak ingin memberikan janji yang belum tentu dapat dipenuhi, namun berkomitmen mengupayakan solusi terbaik melalui koordinasi dengan berbagai pihak.
“Saya tidak berani berjanji di depan para sultan, tetapi seluruh aspirasi ini akan kami pelajari dan kami upayakan langkah terbaik. Tim kami juga akan terus berkomunikasi dengan para sultan untuk menindaklanjuti berbagai persoalan yang disampaikan,” ujar AHY.
Sultan Deli, Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah, mengapresiasi terlaksananya dialog tersebut. Menurutnya, pertemuan itu menjadi sejarah baru karena untuk pertama kalinya delapan sultan Sumatera Timur dapat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada seorang menteri.
“Kami berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap pelestarian budaya Melayu dan pembangunan masyarakat Melayu di Sumatera Utara,” katanya.
Dialog yang berlangsung sekitar dua jam itu ditutup dengan jamuan makan malam khas Melayu berupa roti jala dan kari kambing, diiringi alunan musik tradisional Pakpung dan Ronggeng yang semakin menghidupkan nuansa budaya Melayu.
Usai agenda di Medan, AHY dijadwalkan melanjutkan kunjungan kerja ke Kota Pematangsiantar untuk menghadiri Sinode Gereja Pantekosta Indonesia (GPI), sebelum kembali ke Jakarta pada Jumat (3/7/2026) sore.











