Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos. (Pengurus MD KAHMI Kota Medan Periode 2021–2026)
Di setiap jenjang perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ada satu tradisi sederhana yang sering kali luput dimaknai secara mendalam, yaitu hadirnya “nasi umat”.
Bagi sebagian orang, itu hanyalah hidangan untuk mengganjal lapar para peserta. Namun bagi kader HMI, nasi umat sesungguhnya adalah simbol amanah, kepercayaan, dan pengorbanan masyarakat yang menitipkan harapan kepada generasi intelektual Islam.
Setiap butir nasi yang disantap kader bukan sekadar makanan. Di dalamnya terdapat doa seorang pedagang kecil yang menyisihkan keuntungan hariannya, seorang ibu yang ikhlas memasak, seorang bapak yang menyumbangkan sebagian rezekinya, serta para dermawan yang percaya bahwa kader HMI akan tumbuh menjadi pemimpin yang membela agama, bangsa, dan rakyat.
Karena itu, darah yang mengalir dalam tubuh kader HMI sejatinya telah bercampur dengan pengorbanan umat. Maka, tidak pantas seorang kader melupakan asal perjuangannya. Lebih tidak pantas lagi apabila kelak ia memperoleh jabatan, kekuasaan, atau kekayaan, namun justru menjauh dari rakyat yang dahulu ikut membesarkan perjuangannya.
HMI sejak awal berdiri memiliki tujuan mulia, yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT. Tujuan itu tidak akan pernah tercapai apabila kader kehilangan kepekaan sosial dan melupakan amanah umat.
Bangsa Indonesia hari ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang bersih. Negeri ini membutuhkan intelektual yang tidak menjual idealisme demi kepentingan sesaat. Indonesia membutuhkan generasi yang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, meskipun harus menghadapi berbagai tekanan.
Perkaderan HMI bukan sekadar proses memperoleh sertifikat latihan. Ia adalah sekolah kehidupan yang menempa integritas, keberanian, kepemimpinan, dan pengabdian. Setiap diskusi hingga larut malam, setiap forum yang penuh perdebatan ilmiah, setiap kegiatan sosial, bahkan setiap suapan nasi umat, semuanya membentuk karakter seorang kader agar kelak mampu memimpin dengan nurani.
Oleh sebab itu, jangan pernah menganggap remeh nasi umat. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan ini lahir dari gotong royong masyarakat. Ketika seorang kader menikmati hidangan tersebut, sesungguhnya ia sedang menerima amanah untuk mengabdi, bukan untuk memperkaya diri sendiri.
Kemerdekaan Indonesia tidak berhenti pada 17 Agustus 1945. Tugas generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, pemberantasan kemiskinan, penegakan keadilan, penguatan demokrasi, dan pembangunan karakter bangsa. Di sinilah kader HMI memiliki peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Jangan pernah mengkhianati umat yang telah menyumbangkan hartanya demi berlangsungnya perkaderan. Jangan pernah melupakan masyarakat yang dengan tulus mendukung perjuangan mahasiswa. Jadikan setiap keberhasilan sebagai jalan untuk membalas kepercayaan itu melalui karya nyata, pelayanan, dan kepemimpinan yang berintegritas.
Kepada seluruh kader HMI di mana pun berada, ingatlah bahwa kehormatan organisasi bukan terletak pada atribut yang dikenakan, melainkan pada akhlak, kapasitas intelektual, dan keberpihakan kepada rakyat. Jadilah pemimpin yang rendah hati, jujur, berani, dan tetap setia kepada cita-cita perjuangan.
Selama nasi umat masih menjadi bagian dari setiap perkaderan HMI, selama itu pula amanah umat akan terus melekat dalam setiap langkah kader. Maka jagalah amanah itu seumur hidup, sebab kelak yang akan dikenang bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang telah diberikan bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Yakin Usaha Sampai













