MEDAN | Radar Hukum (28/6) – Perdagangan saham pada Senin (29/6/2026) diperkirakan masih dibayangi tekanan jual setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam sepanjang pekan lalu. Pelaku pasar diminta mewaspadai potensi pengujian level 5.700 sekaligus tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko di tengah tingginya volatilitas pasar.
Berdasarkan data perdagangan 22–26 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 4,55 persen ke level 5.896,13. Penurunan tersebut turut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar menjadi sekitar Rp10.302 triliun, serta melambatnya nilai dan volume transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan pasar juga dipengaruhi aksi jual investor asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), investor asing mencatat net sell Rp537,25 miliar, sehingga akumulasi jual bersih sepanjang 2026 mencapai sekitar Rp71,68 triliun.
Secara teknikal, sejumlah analis memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi sebelum membentuk tren penguatan baru. Selama indeks belum mampu kembali bertahan di atas area 5.900–5.937, peluang pengujian level 5.700–5.800 masih terbuka pada awal pekan.
Selain faktor teknikal, pergerakan pasar juga akan dipengaruhi sentimen ekonomi domestik, seperti rilis data PMI Manufaktur Indonesia, neraca perdagangan, dan inflasi yang dinilai menjadi indikator penting bagi arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, investor disarankan tidak terburu-buru mengejar saham yang telah mengalami kenaikan signifikan. Strategi buy on weakness atau melakukan pembelian secara bertahap pada saham yang masih memiliki fundamental baik dinilai lebih bijaksana dibandingkan melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus.
Salah satu saham yang dinilai menarik untuk dicermati adalah JSMR. Emiten pengelola jalan tol tersebut dinilai memiliki prospek positif seiring percepatan pembangunan Tol Jogja–Solo serta potensi peningkatan volume kendaraan selama musim libur sekolah. Area harga Rp2.770–Rp2.930 disebut sebagai zona akumulasi yang menarik dengan target kenaikan menuju Rp3.170–Rp3.410, selama tetap mampu bertahan di atas batas stop loss.
Selain itu, saham CUAN juga mulai masuk radar pelaku pasar. Meski masih berada dalam tekanan pascadivestasi saham oleh pemegang saham utama, koreksi yang cukup dalam dinilai membuka peluang terjadinya rebound apabila tekanan jual mulai mereda. Area Rp520–Rp550 menjadi level yang layak dicermati sebagai titik akumulasi, dengan potensi penguatan menuju Rp720–Rp830 apabila sentimen pasar membaik.
Analis menilai peluang perdagangan pada awal pekan lebih mengarah pada proses seleksi saham dibandingkan reli pasar secara menyeluruh. Oleh karena itu, investor diimbau tetap mengedepankan pengelolaan risiko, melakukan akumulasi secara bertahap, serta mencermati perkembangan sentimen global maupun domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan IHSG.
(Red)













