Jakarta | Radar Hukum. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan ditutup melemah ke level 5.896, mencerminkan masih kuatnya tekanan jual di pasar modal Indonesia. Pelemahan tersebut terjadi di tengah sentimen negatif yang turut membayangi pergerakan bursa saham kawasan Asia.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar maupun sektor energi menjadi penyumbang utama penurunan indeks. Di sisi lain, beberapa emiten masih mampu mencatatkan penguatan dan masuk dalam daftar saham dengan kenaikan tertinggi (top gainers).
Pada perdagangan hari itu, PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD) memimpin daftar top gainers setelah melonjak 14,71 persen ke level Rp78 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) yang menguat 7,88 persen menjadi Rp5.200 per saham, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 2,49 persen ke posisi Rp6.175 per saham.
Sementara itu, tekanan jual paling besar terjadi pada kelompok top losers. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) terkoreksi 13,12 persen menjadi Rp6.125 per saham. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) turun 10,73 persen ke level Rp1.040 per saham, sedangkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melemah 6,13 persen menjadi Rp306 per saham.
Pergerakan IHSG yang berakhir di zona merah menunjukkan investor masih menerapkan sikap hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen, mulai dari dinamika ekonomi global, pergerakan harga komoditas, hingga ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Analis menilai volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut pada perdagangan pekan depan. Investor disarankan mencermati perkembangan data ekonomi domestik maupun global serta sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG.
Meski demikian, sejumlah saham yang mencatatkan penguatan menunjukkan masih terdapat peluang investasi pada emiten dengan fundamental yang dinilai kuat, di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi.
(Red/sb:katadata.co.id)
